Kamis, 10 Maret 2011

EKSISTENSI HIDUP


            Bagaimana kalau dunia tanpa keadilan? Bagaimana kalau dunia tanpa keamanan? Bagaimana kalau dunia tanpa kejujuran? Apa jadinya kalau dunia tanpa peperangan? apa jadinya kalau dunia tanpa kekacauan? apa jadinya kalau dunia tanpa bencana alam? apa jadinya kalau dunia tanpa itu semua? apakah akan indah? apakah akan ramai? Tidak…semata-mata dunia tak akan ramai, tak akan indah tanpa itu semua, dunia akan serasa sepi dan  hampa. Telah menjadi sunnatullah bahwa semua ciptaan Allah baik yang sifat maupun maujud berpasang-pasangan dan dalam menciptakan itu semua pasti Allah punya maksud tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan keberlangsungan alam ini. Tinggal yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi dan mencari solusi untuk itu semua.
            Begitupun dengan diri manusia, dalam diri manusia terdapat dua unsur yang merupakan ciri eksistensi manusia, kedua unsur itu adalah unsur baik dan unsur jahat, unsur baik diwakili oleh hati/akal, dan unsur jahat diwakili oleh nafsu. Kedua unsur ini sangat bermanfaat, berguna dan diperlukan bagi kehidupan manusia, bahkan bisa dikatakan karena kedua unsur inilah mengapa manusia dari waktu ke waktu semakin maju, semakin inovatif dalam membangun peradaban. Tanpa nafsu dan akal eksistensi kita sebagai manusia patut dipertanyakan, apakah kita ini manusia atau bukan? apakah kita ini hidup atau tidak? apakah kita ini normal atau tidak?
            Tanpa nafsu manusia takkan punya keinginan, takkan ada kemauan, takkan ada rasa kurang, takkan ada peradaban bahkan kita pun sebagai manusia takkan ada kalau tak ada nafsu, itulah yang membedakan antara kita dengan malaikat. Adanya peradaban, indahnya dunia, semangat dalam hidup merupakan manfaat dari adanya nafsu. Mari kita falshback pada cerita Adam dan Hawa, mengapa mereka diusir oleh Tuhan dari surga? Apakah mereka melakukan dosa atau kesalahan sehingga mereka berdua diusir? Sebenarnya mereka berdua diusir Tuhan dari surga itu bukan karena ulah syaitan melainkan ulah hawa nafsu yang ada pada diri mereka sendiri , syaitan cuma menunjukan jalan atau mengajak pada Adam dan Hawa kalau mau abadi, punya keturunan, dan membangun peradaban serta menemukan eksistensi mereka, mereka berdua harus makan buah khuldi yang merupakan larangan Tuhan satu-satunya pada mereka di surga. Akhirnya Adam dan Hawa kalah oleh nafsu yang menyelimuti mereka berdua sehingga mereka memakan buah larangan tersebut, yang menyebabkan mereka diusir kedunia.
Diusirnya Adam dan Hawa kedunia secara tidak langsung telah menjalankan takdir Tuhan, mereka diusir kedunia bukan karena kemarahan, kebencian ataupun hukuman Tuhan sebagaiamana kebanyakan orang mengatakan, melainkan karena kasih sayang Tuhan pada mereka berdua. Di dunia mereka bisa mempunyai keturunan dan membangun peradaban untuk melestarikan dunia, ini merupakan amanat Tuhan sebagaimana dalam Al-Qur’an bahwa Allah menciptakan manusia itu sebagai “khalifah fi al-ardl” “khalifah dimuka bumi.”dan berkata Allah SWT kepada para malaikat :sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah dimuka bumi (dunia)………………(Q.S Al-Baqarah:30)
Nafsu itu sifatnya ingin terus/merasa kurang, dan tidak pernah puas akan apa yang kita kerjakan atau yang belum kita kerjakan, itu bagus kalau pada perkara yang positif atau yang tidak bertentangan dengan ajaran islam tapi kalau pada hal yang bertentangan dengan ajaran islam atau yang negatif maka akan merugikan pada diri kita sendiri, pepatah mengatakan bahwa nafsu itu seperti seorang anak kecil, kalau tak dituruti akan menangis tapi kalau dituruti akan menyusahkan kita.
Karena kasih sayang Tuhan pada manusia juga karena mulianya manusia di banding makhluk lainnya maka Tuhan memberikan akal kepada manusia untuk mengimbangi kekuatan nafsu, malaikat kalah oleh Adam dalam kompetisi adu kecerdasan yang diadakan oleh Tuhan sekaligus jurinya karena Adam mempunyai senjata yang sangat jitu yaitu akal, dengan peranan akal Adam dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Tuhan sekaligus menyebutkan manfaat dan fungsi dari apa yang ditanyakan oleh Tuhan kepadanya, sedangkan malaikat tak satupun menjawab, pertanyaan yang diajukan Tuhan kepadanya, karena malaikat tak mempunyai akal. Itulah sebabnya ada ulama yang menyatakan bahwa manusia sebagai hayawan al-natiq yang berarti hewan yang mempunyai akal. Fungsi akal adalah untuk memfilter fikiran-fikiran atau pengaruh nafsu jelek/jahat yang menyebabkan manusia tergelincir pada lembah kehinaan dan kecelakaan yang menyebabkan kerugian berkepanjangan pada manusia.
Selain memfilter, fungsi akal juga sebagai eksistensi bahwa manusia itu benar-benar beriman dan tunduk kepada Allah SWT, tidak mungkin manusia berakal tak beriman kepada Allah SWT. Manusia yang tak beriman kepada Allah adalah manusia yang tak punya akal, walaupun ia punya akal tapi fungsi akalnya tak dijalankan.
Pepatah mengatakan bahwa “bahagialah orang yang menjadikan akal sebagai rajanya dan nafsu sebagai budaknya, dan celakalah orang yang menjadikan nafsu sebagai rajanya dan akal sebagai budaknya”  Ini menandakan bahwa manusia yang menggunakan akal dengan sesuai fitrahnya akan beruntung dan mendapat kedudukan mulia dihadapan semua makhluk dan Tuhannya, sedangkan manusia yang menggunakan akal tidak sesuai dengan fitrahnya akan mendapatkan kehinaan jangankan dihadapan Tuhannya, dihadapan makhluk yang lain pun dia akan hina, malahan lebih hina dibanding yang tak punya akal sekalipun.
Mudah-mudahan kita digolongkan kepada golongan manusia yang beriman, yaitu manusia yang berakal dan menggunakan akal untuk tunduk dan beriman kepada Allah SWT sebagai eksistensi hidup kita……Amin ya rabbal alamin.  
(Created By: Linda Sapphire Blue)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KANDUNGAN DAN MANFAAT BUAH NAGA

Buah naga adalah buah yang hanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Seperti namanya, buah ini memiliki kulit menyerupai sisik naga dan b...